Apa Itu Aset Digital yang Perlu Dimiliki Seller Marketplace?
Aset digital adalah sumber daya dalam bentuk digital yang memiliki nilai bagi bisnis. Bagi seller, bentuknya bisa berupa domain, website, database pelanggan, email, dan kanal komunikasi yang dibangun sendiri.
Nilainya muncul karena aset tersebut dapat digunakan untuk mendukung pemasaran, penjualan, hubungan dengan pelanggan, atau pengembangan brand. Masalahnya, tidak semua aset digital berada dalam kendali yang sama.
Seller bisa memiliki domain dan website sendiri, tetapi akun marketplace, algoritma, aturan promosi, serta akses terhadap audiens di dalam platform tetap berada dalam ekosistem marketplace tersebut.
Di sinilah pentingnya mulai memahami apa itu aset digital dari sudut pandang bisnis. Tujuannya untuk membangun aset yang dapat dikembangkan sendiri sehingga bisnis tidak hanya bergantung pada satu channel untuk mendapatkan pelanggan.
Apa Itu Aset Digital dalam Bisnis Online?
Dalam konteks bisnis online, aset digital adalah sumber daya digital yang memberikan manfaat bagi bisnis dan dapat digunakan untuk mencapai tujuan tertentu. Bentuknya sangat beragam, bisa materi visual seperti logo, foto, video, dan dokumen hingga website, domain, data, dan aset pemasaran digital lainnya.
Bagi seller, pengertian tersebut relevan ketika kita melihat fungsi asetnya. Foto produk, misalnya, dapat digunakan berulang untuk katalog, media sosial, iklan, atau website. Domain dapat menjadi alamat yang konsisten untuk brand. Website dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan produk dan berinteraksi dengan pelanggan.
Hal yang sama berlaku untuk data pelanggan. Informasi yang diperoleh langsung dari interaksi bisnis dengan pelanggan dapat membantu seller memahami siapa yang membeli, apa yang pernah dibeli, dan bagaimana komunikasi berikutnya dapat dilakukan secara lebih relevan.
Di sisi lain, ada aset atau channel yang digunakan seller, tetapi tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya. Akun marketplace adalah salah satu contohnya. Akun tersebut tetap sangat bernilai karena dapat mendatangkan trafik dan transaksi, tetapi ekosistem tempat akun tersebut beroperasi ditentukan oleh platform.
Ciri Aset Digital yang Bernilai bagi Seller
Tidak semua hal digital otomatis menjadi aset yang bernilai tinggi bagi bisnis. Salah satu cara sederhana untuk melihatnya adalah dengan memperhatikan empat hal: kepemilikan, akses, kontrol, dan manfaat jangka panjang.
Pertama, ada aspek kepemilikan. Seller perlu mengetahui siapa yang sebenarnya memiliki atau menguasai aset tersebut. Domain atas nama bisnis, misalnya, berbeda karakter dengan akun yang hanya dapat digunakan selama mengikuti aturan suatu platform.
Kedua, akses. Aset yang bernilai harus dapat digunakan ketika dibutuhkan. Database pelanggan yang tidak pernah diperbarui atau tidak dapat diakses tim yang bertanggung jawab tentu tidak banyak membantu.
Ketiga, kontrol. Semakin besar kendali seller terhadap suatu aset, semakin besar pula ruang untuk mengembangkannya sesuai kebutuhan bisnis. Website dan domain memberikan ruang yang berbeda dibandingkan halaman toko di marketplace.
Keempat, manfaat jangka panjang. Aset yang dapat digunakan kembali dan terus dikembangkan cenderung memiliki nilai strategis lebih besar. Dalam pengelolaan aset digital, kemampuan untuk menemukan, menggunakan kembali, dan mengadaptasi aset juga menjadi bagian penting dari nilainya.
Mengapa Seller Perlu Memiliki Aset Digital Sendiri?
Marketplace memberikan banyak manfaat bagi seller. Platform tersebut dapat membantu bisnis mendapatkan calon pelanggan, memproses transaksi, dan memanfaatkan ekosistem yang sudah memiliki banyak pengguna.
Oleh sebab itu, marketplace tetap relevan dan tidak perlu diposisikan sebagai sesuatu yang harus ditinggalkan. Persoalannya muncul ketika hampir seluruh aktivitas penjualan hanya bergantung pada satu platform.
Perubahan algoritma, kebijakan, biaya, program promosi, atau cara platform menampilkan produk dapat memengaruhi bagaimana pelanggan menemukan sebuah toko.
Hubungan Aset Digital dengan Kepemilikan Pelanggan
Satu transaksi belum tentu berarti seller sudah memiliki hubungan pelanggan yang kuat. Seorang pelanggan mungkin membeli produk karena melihatnya di marketplace, menyelesaikan transaksi, lalu tidak pernah berinteraksi lagi dengan brand tersebut.
Seller memang mendapatkan penjualan, tetapi kesempatan untuk memahami pelanggan dan membangun komunikasi lanjutan bisa saja terbatas. Di sinilah first-party data menjadi penting.
First-party data adalah informasi yang diperoleh bisnis secara langsung dari interaksinya dengan pelanggan. Contohnya dapat berupa informasi kontak yang diberikan pelanggan, histori pembelian, atau preferensi melalui interaksi bisnis.
Data semacam ini dapat membantu seller melakukan segmentasi, memahami pola pembelian, dan menyusun komunikasi. Data pelanggan dan performa pemasaran memang dapat menjadi aset yang membantu bisnis mengambil keputusan.
Namun, memiliki data bukan berarti seller bebas menggunakannya untuk apa saja. Cara memperoleh, menyimpan, dan menggunakan data harus dilakukan secara bertanggung jawab serta memperhatikan persetujuan atau izin pelanggan.
6 Aset Digital yang Perlu Mulai Dibangun Seller
Tidak semua seller harus langsung membangun seluruh aset digital sekaligus. Namun, ada beberapa aset yang layak mulai dipikirkan ketika bisnis ingin mengurangi ketergantungan pada satu marketplace.
| Yang Digunakan Seller | Apakah Sepenuhnya Dikendalikan Seller |
|---|---|
| Akun marketplace | Tidak |
| Followers marketplace | Tidak sepenuhnya |
| Database pelanggan sendiri | Ya* |
| Domain bisnis | Ya* |
| Website atau storefront | Ya* |
| Email dan WhatsApp dengan izin pelanggan | Ya* |
*Kontrol tetap perlu disertai pengelolaan akun, akses, keamanan, dan penggunaan data yang bertanggung jawab. Tabel tersebut bukan berarti aset marketplace tidak berharga.
Justru sebaliknya, akun dan followers marketplace dapat menjadi sumber trafik, discovery, dan transaksi yang penting. Perbedaannya terletak pada seberapa besar seller dapat mengontrol aset tersebut dan menentukan bagaimana aset itu digunakan.
Database Pelanggan dan First-Party Data
Database pelanggan merupakan salah satu aset yang semakin penting ketika bisnis mulai memikirkan hubungan jangka panjang dengan pembeli. Informasi di dalamnya dapat mencakup nama, kontak, histori pembelian, hingga preferensi pelanggan.
Data tersebut kemudian dapat digunakan untuk memahami kelompok pelanggan yang berbeda. Misalnya, pelanggan yang pernah membeli produk tertentu dapat memiliki kebutuhan berbeda dari orang yang baru pertama kali mengenal brand.
Database juga dapat membantu seller melihat pola pembelian. Produk mana yang sering dibeli kembali? Pelanggan seperti apa yang paling sering melakukan pembelian? Kapan pelanggan biasanya kembali berbelanja?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu bisnis mengambil keputusan yang lebih baik.
Email dan WhatsApp Bisnis
Email dan WhatsApp dapat menjadi kanal komunikasi yang lebih langsung antara bisnis dan pelanggan. Penggunaannya tidak harus selalu berhubungan dengan promosi.
Seller dapat memanfaatkannya untuk memberikan informasi pesanan, mengirim edukasi, menyampaikan informasi produk, atau menawarkan sesuatu yang memang relevan bagi pelanggan.
Misalnya, pelanggan yang sebelumnya membeli produk tertentu mungkin lebih tertarik menerima informasi mengenai produk pelengkap dibandingkan promosi yang sama sekali tidak berkaitan.
Namun, komunikasi langsung memiliki batas yang perlu dihormati. Memiliki alamat email atau nomor WhatsApp pelanggan bukan berarti seller boleh mengirim pesan promosi tanpa mempertimbangkan persetujuan dan ekspektasi pelanggan.
Domain dan Website Bisnis
Domain adalah alamat digital yang digunakan untuk merepresentasikan brand di internet. Ketika domain menggunakan nama brand sendiri, seller memiliki identitas digital yang dapat dibangun dan dikembangkan dalam jangka panjang.
Website kemudian menjadi ruang yang dapat digunakan untuk menjelaskan siapa brand tersebut, menampilkan katalog, menyediakan informasi produk, menerbitkan konten, hingga mendukung transaksi.
Cara Menentukan Aset Digital yang Perlu Diprioritaskan
Kesalahan yang cukup umum adalah menganggap bisnis harus langsung memiliki website, database, email marketing, WhatsApp Business, dan berbagai aset lain sekaligus. Padahal, kebutuhan setiap seller berbeda.
Kami lebih menyarankan memulai dari masalah bisnis yang sedang dihadapi. Jika masalah utama seller adalah repeat order, maka mulailah dari database pelanggan. Tidak perlu langsung membangun sistem yang rumit.
Seller dapat mulai dengan memahami informasi pelanggan yang memang diperlukan, memastikan data diperoleh dengan cara yang tepat, lalu mengelompokkannya berdasarkan kebutuhan bisnis.
Tujuannya adalah mengetahui siapa pelanggan yang sudah pernah membeli dan bagaimana hubungan tersebut dapat dipelihara secara relevan. Jika brand sulit ditemukan secara langsung, pertimbangkan domain dan website.
Keduanya dapat menjadi aspek penting untuk membangun identitas digital yang konsisten. Dalam jangka panjang, keberadaan domain sendiri juga membuat brand memiliki alamat digital yang dapat digunakan di berbagai materi komunikasi.
Jika komunikasi pelanggan masih tersebar, maka bisa pertimbangkan email atau WhatsApp sebagai channel komunikasi yang dapat dikelola terarah. Namun, jangan mulai dari pertanyaan “berapa banyak kontak yang bisa dikumpulkan?”
Mulailah dari pertanyaan “pelanggan membutuhkan informasi bagaimana, dan komunikasi seperti apa yang memang ingin mereka terima?”
Mulai Bangun Aset Digital Secara Bertahap
Ketergantungan pada marketplace bukan berarti seller harus meninggalkan marketplace. Justru, marketplace masih dapat menjadi salah satu sumber discovery dan penjualan yang penting.
Yang perlu diubah adalah cara seller melihat channel tersebut. Marketplace dapat menjadi tempat pelanggan menemukan produk. Sementara itu, aset digital yang dikelola sendiri dapat membantu bisnis membangun identitas brand.
Pada akhirnya, tujuan membangun aset digital bukan sekadar memiliki lebih banyak akun atau platform. Tujuannya adalah membangun fondasi bisnis yang tidak sepenuhnya bergantung pada keputusan satu pihak.
Aset digital dapat membantu UMKM membangun kontrol atas brand, pelanggan, komunikasi, dan channel penjualan. Domain, website, database pelanggan, serta kanal komunikasi yang dikelola sendiri.
Namun, nilai aset tersebut tetap bergantung pada bagaimana aset tersebut dikelola dan digunakan. Selain itu, akun marketplace memiliki nilai bagi bisnis karena dapat digunakan untuk menjual produk, mendapatkan trafik, dan menjangkau pelanggan.
Namun, karakter kontrolnya berbeda dari aset seperti domain atau database pelanggan sendiri. Seller tetap beroperasi dalam aturan, algoritma, dan lingkungan yang ditentukan oleh marketplace.
Anda sudah memahami aset digital yang membantu seller memiliki kontrol lebih besar atas pelanggan dan brand. Tahap berikutnya adalah menentukan platform yang mampu mengelola aset tersebut secara praktis. Pelajari checklist memilih platform D2C untuk seller yang ingin scale bisnis.
The content above follows the supplied article, including its marketplace-control discussion, first-party data section, table, prioritization guidance, and conclusion. The final Google Docs anchor URL is the one item replaced with your published URL.
